IDEN
Penguatan Gerakan Zakat di Pesantren Berbasis Kolaborasi dan Digital
28 September 2021

Jakarta, KNEKS - Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) bersama Baitulmaal Muamalat (BMM) dan AmalSholeh.com mengadakan Diskusi Interaktif "Penguatan Gerakan Zakat di Pesantren Berbasis Kolaborasi dan Digital" pada Jumat (24/9) secara daring. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperkuat gerakan zakat di pondok-pondok pesantren.

Dalam agenda ini, Jamil Abbas selaku Kepala Divisi Inklusi Keuangan Syariah KNEKS pada pembukaan diskusi menuturkan bahwa zakat dan pesantren adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Pesantren memerlukan dukungan beragam dana sosial, termasuk zakat, untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Di sisi lain, pesantren juga memainkan peran sangat penting di ekosistem zakat Indonesia, baik dalam hal dakwah, edukasi, maupun pengelolaan zakat. Oleh karena itu, gerakan zakat di pesantren perlu terus diperkuat sesuai dengan perkembangan zaman. Diskusi interaktif kali ini difokuskan pada penguatan melalui kolaborasi dan pemanfaatan teknologi digital.

Pemateri pertama di diskusi interaktif ini, Galih Pujonegoro, Kepala Divisi Penghimpunan dan Perwakilan Wilayah BMM, menyampaikan bahwa penguatan gerakan zakat di pesantren dapat dilaksanakan dengan menjalin kemitraan dengan berbagai Lembaga Amil Zakat (LAZ) resmi yang ada, termasuk BMM. Dengan menjadi mitra LAZ resmi, gerakan zakat di pesantren akan mendapat berbagai manfaat seperti kemudahan untuk memenuhi kewajiban legalitas dan pelaporan sesuai aturan yang berlaku, serta adanya pelatihan dan pendampingan dari LAZ yang menjadi mitra.

Selain itu, pemateri kedua, Nur Roni Dinnurohman yang menjabat sebagai CTO di AmalSholeh.com, menyatakan jika melihat dari segi peluang, zakat terus mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Namun, dalam rangka untuk memperkuat gerakan zakat di pesantren, perlu ada platform digital untuk menghimpun dana zakat tanpa batas.

“Platform digital memungkinkan pesantren untuk dapat berinteraksi dan membangun kepercayaan langsung dengan donatur yang telah berkontribusi terhadap program yang telah digulirkan,” ujar pemateri yang akrab dengan panggilan Kang Onnay ini.

Pesantren dapat memanfaatkan berbagai social crowdfunding platform yang sudah ada di Indonesia untuk melakukan pengumpulan dana, baik pengumpulan dana zakat maupun dana sosial lainnya. Namun, supaya efektif dan mampu menarik minat muzakki serta donatur, diperlukan konten yang memuat secara jelas dan atraktif latar belakang program, manfaat dari program tersebut, dan ajakan berbuat, bergerak dan membersamai untuk berdonasi.

Adapun untuk membuat berbagai konten donasi yang menarik dan untuk mengelola ikhtiar fundraising yang dilakukan di social crowdfunding platform, pesantren perlu memiliki tim khusus. Tim khusus ini dapat diisi oleh santri-santri yang kreatif dan kompeten. Dengan menjadi bagian dari tim ini, santri-santri tersebut dapat berkontribusi pada kegiatan penggalangan dana bagi pesantrennya, sambil menimba pengalaman serta mengasah kemampuan yang bermanfaat bagi masa depan mereka.

Di akhir acara diskusi interaktif tersebut, melihat besarnya manfaat dari berkolaborasi, Jamil Abbas selaku moderator dan wakil dari KNEKS menghimbau para pesantren untuk menjajaki kolaborasi dengan berbagai lembaga keuangan syariah resmi dalam rangka untuk memperkuat gerakan zakat dan juga untuk meningkatkan kinerja operasional pesantren. Jamil juga menyarankan pendirian ULKS (Unit Layanan Keuangan Syariah) di pesantren supaya kolaborasi dengan berbagai lembaga keuangan syariah tersebut dapat terlaksana secara lebih optimal.

Penulis: Devita Ayu Lestari
Redaktur Pelaksana: Ishmah Qurratu'ain

Berita Lainnya